Merasa, Bukan Sekedar Memahami: Cara Mahasiswa Gen Z BKI Belajar Emosi Secara Utuh

Nama: Kafka Agna Nafisah_234110101104

*Bimbingan dan konseling Islam

Di zaman serba digital ini, mahasiswa sering merasa “mengerti” tentang emosi—mereka mampu menyebutkan istilah seperti kecemasan, stres, atau kelelahan. Namun, banyak yang belum benar-benar merasakan emosi tersebut secara mendalam. Emosi sering kali hanya menjadi label tanpa pengalaman yang nyata. Di sinilah pentingnya memahami bahwa emosi tidak hanya melibatkan pikiran, tetapi juga pengalaman fisik.

Saat cemas, napas menjadi cepat, dada terasa sesak, tangan dingin, dan sulit berkonsentrasi. Sebaliknya, saat bahagia, senyum muncul spontan, tubuh terasa ringan, dan energi meningkat. Ini menunjukkan bahwa tubuh dan emosi saling terhubung. Dalam psikologi modern, emosi memang “hidup” dalam tubuh, bukan sekadar konsep dalam pikiran.

Sayangnya, kehidupan digital membuat banyak mahasiswa—termasuk Gen Z—lebih sering “hidup di kepala” daripada “hadir dalam tubuh”. Terlalu lama di depan layar, multitasking, dan tekanan media sosial membuat mereka terbiasa menganalisis emosi, tetapi kurang merasakannya. Akibatnya, emosi sering terabaikan hingga muncul dalam bentuk kelelahan mental, overthinking, atau burnout.

Bagi mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Gen Z, pemahaman ini sangat penting. Sebagai calon konselor, mereka tidak cukup hanya memahami emosi secara teori, tetapi juga perlu merasakan dan menangkapnya secara utuh melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan intonasi suara.

Di sinilah perbedaan antara konselor yang “sekadar tahu” dan yang benar-benar hadir. Konselor dengan kesadaran tubuh (embodied awareness) akan lebih peka—mampu menangkap emosi yang tidak terucap dan merespons dengan empati yang lebih autentik. Selain itu, pendekatan ini membantu mahasiswa lebih mengenal dirinya. Dengan menyadari napas, postur tubuh, dan ekspresi saat mengalami emosi, mereka membangun self-awareness yang menjadi dasar penting dalam konseling.

Menariknya, konsep ini selaras dengan nilai Islam. Shalat, dzikir, dan muhasabah mengajarkan keterhubungan antara tubuh, pikiran, dan hati. Gerakan shalat menenangkan, dzikir menstabilkan pikiran, dan muhasabah melatih kejujuran batin.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa BKI Gen Z bukan hanya tentang menguasai teori, tetapi juga menjadi manusia yang utuh—yang mampu merasakan, memahami, dan hadir sepenuhnya. Dalam konseling, kehadiran yang tulus sering kali lebih bermakna daripada sekadar kata-kata.

Emosi tidak cukup dipahami. Ia perlu dirasakan, disadari, dan dihayati.

*Bimbingan dan konseling Islam