Oleh: Pangesti Suryaning Tyas_234110101071
*Bimbingan Konseling Islam
Menjadi mahasiswa sering kali dianggap sebagai fase paling “keren” dalam hidup. Namun, di balik postingan media sosial yang estetik atau deretan nilai IPK yang membanggakan, ada realita yang sering disembunyikan: lelah yang luar biasa. Antara tenggat waktu tugas yang mencekik, ekspektasi orang tua yang tinggi, hingga ketakutan akan masa depan setelah lulus, mahasiswa sering kali merasa dipaksa menjadi “robot” yang harus terus berlari tanpa henti. Padahal, satu hal yang sering terlupakan adalah mahasiswa tetaplah manusia biasa yang memiliki batas lelah dan butuh jeda untuk bernapas.
Kelelahan ini jika dibiarkan akan menjebak mahasiswa dalam fenomena academic burnout sebuah kondisi di mana motivasi hilang, fisik mulai sakit-sakitan, dan emosi menjadi tidak stabil. Dalam kondisi mental yang sedang “gak baik-baik saja” ini, kalimat penyemangat klise seperti “Sabar ya, namanya juga kuliah” terkadang justru terasa seperti beban tambahan daripada penguat. Di sinilah peran Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) hadir sebagai oase. BKI bukan sekadar tempat curhat biasa, melainkan sebuah pendekatan yang memadukan kesehatan mental dengan ketenangan spiritual untuk memanusiakan kembali para mahasiswa.
BKI menawarkan menata jiwa yang lelah adalah dengan melakukan Re-Nawa atau menata ulang niat. Dalam Islam, niat adalah kompas utama; jika kita berjuang hanya untuk pamer atau sekadar memenuhi ekspektasi orang lain, kita akan mudah hancur saat menemui kegagalan. Dengan mengembalikan niat kuliah sebagai bentuk ibadah (Lillah), beban mental akan terasa lebih ringan karena kita percaya bahwa hasil akhir sepenuhnya berada di tangan Tuhan, sementara tugas kita hanyalah berproses dengan sebaik mungkin.

sumber:pinterest
Selain menata niat, mahasiswa diajak untuk melakukan katarsis atau pelepasan emosi di atas sajadah. Konseling Islam mengajarkan bahwa sebelum kita berkeluh kesah kepada manusia, bicaralah terlebih dahulu kepada Sang Pencipta melalui shalat, zikir, dan doa. Menangis di hadapan-Nya bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kejujuran tertinggi bahwa kita memang tidak kuat jika harus berjalan sendirian. Hal ini kemudian diperkuat dengan pendekatan Iradah (kehendak dan usaha), di mana mahasiswa didorong untuk menyadari batasan diri. Menjaga amanah Tuhan atas tubuh dan mental dengan cara berani berkata “tidak” pada kegiatan yang terlalu menyita waktu atau mengambil istirahat sejenak adalah langkah yang sangat mulia.
Jika beban yang dipikul terasa sudah terlalu berat, melalui BKI dapat mencari bantuan profesional melalui konselor kampus adalah langkah yang sangat islami. Menemui konselor bukan berarti kita kurang iman, melainkan sebuah ikhtiar nyata untuk menjemput kesembuhan jiwa. Ingatlah, menjadi mahasiswa yang sehat secara mental jauh lebih penting daripada menjadi mahasiswa yang sukses secara akademik tapi hancur di dalam. Jangan tunggu sampai “pecah” baru mencari bantuan. Istirahatlah sejenak jika perlu, karena kamu adalah manusia, bukan mesin. Tuhan mencintai setiap langkah usahamu, bukan hanya hasil akhirmu.
*Bimbingan Konseling Islam