Himpunan Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (HMPS BKI) UIN Saizu mengadakan kegiatan edukatif bertajuk Workshop Hypnosis dengan tema “Self Improvement Melalui Hypnosis Islami dalam Praktik Bimbingan dan Konseling” pada Selasa, 18 November 2025. Workshop ini berlangsung di Aula Gedung Saintek lantai 3 Kampus 2 UIN Saizu Purbalingga dan diikuti oleh mahasiswa dengan antusiasme tinggi, terutama dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam.
Kegiatan ini menghadirkan Kyai Masrokan, C.I,C.Ht.Prof sebagai pemateri utama. Beliau adalah seorang praktisi hypnosis Islami yang telah lama berkecimpung dalam pengembangan teknik sugesti positif untuk pembinaan diri. Sejak sesi pembukaan, beliau langsung meluruskan berbagai anggapan keliru seputar hypnosis. Menurutnya, masyarakat kerap memandang hypnosis sebagai praktik yang berbahaya atau berhubungan dengan unsur mistis. Padahal, secara ilmiah hypnosis adalah metode untuk membawa seseorang pada kondisi relaks dan sangat fokus, sehingga lebih mudah diarahkan pada sugesti-sugesti positif.
Kyai Masrokan menegaskan bahwa hypnosis jika dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai nilai-nilai Islam, justru memiliki manfaat besar untuk meningkatkan kualitas diri. Dalam konteks bimbingan dan konseling, teknik ini dapat membantu klien mengatasi kecemasan, meningkatkan motivasi, mengubah pola pikir negatif, hingga menumbuhkan kepercayaan diri. Ia juga menyampaikan bahwa hypnosis Islami bukan sesuatu yang baru, melainkan dapat dikaitkan dengan konsep muhasabah, meditasi dzikir, dan pengendalian diri yang sudah lama dikenal dalam tradisi keislaman.
Sebagai contoh, beliau menunjukkan bagaimana kondisi fokus relaks dapat membantu klien membuka diri terhadap perubahan. Peserta diajak mencoba latihan pernapasan dan relaksasi sederhana untuk merasakan bagaimana tubuh dan pikiran dapat diarahkan menuju ketenangan. Demonstrasi ini menjadi salah satu momen yang menarik perhatian peserta, karena mereka dapat merasakan pengalaman langsung yang sebelumnya hanya mereka dengar dalam teori.
Acara dipandu oleh Intan Nuraeni sebagai moderator yang mampu menjaga alur kegiatan tetap hidup dan komunikatif. Diskusi berlangsung hangat, dengan banyaknya mahasiswa yang mengajukan pertanyaan. Beberapa di antaranya meminta penjelasan mengenai batasan etika dalam hypnosis, penerapan hypnosis dalam setting konseling Islami, hingga peluang penggunaan teknik ini di lingkungan pendidikan dan masyarakat.
Dalam pemaparannya, narasumber menekankan bahwa konselor masa kini perlu menguasai berbagai pendekatan yang relevan dengan kebutuhan klien. Hypnosis Islami dapat menjadi salah satu metode alternatif yang aman, profesional, dan sejalan dengan etika bimbingan serta nilai-nilai keislaman. Karena itu, memahami hypnosis tidak hanya memperluas wawasan mahasiswa, tetapi juga menambah kompetensi mereka sebagai calon konselor.
Workshop ini diakhiri dengan penyampaian pesan dari pemateri bahwa seorang konselor harus mampu menggali potensi diri dan terus memperbarui ilmu agar dapat mendampingi klien secara holistik. Kesadaran diri, ketenangan batin, dan kemampuan mengelola pikiran menjadi kunci untuk membimbing orang lain menuju perubahan positif. Setelah sesi tanya jawab, kegiatan ditutup dengan foto bersama dan penyampaian informasi mengenai rangkaian kegiatan HMPS BKI selanjutnya.
Mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini berharap workshop serupa dapat kembali diselenggarakan karena memberikan wawasan baru sekaligus mematahkan stigma negatif tentang hypnosis. Untuk informasi kegiatan HMPS BKI berikutnya, peserta dapat mengikuti akun Instagram resmi @hmpsbki_uinsaizu.