Suasana ruang perkuliahan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto mendadak berubah jadi arena pameran kreatif. Mahasiswa semester 3 Program Studi BKI menggelar demonstrasi hasil pengembangan media Bimbingan dan Konseling (BK) sebagai proyek dari mata kuliah Pengembangan Media BK yang diampu oleh Bapak Dikdik Garnika, M.Pd. Kegiatan ini bukan sekadar tugas biasa, tetapi menjadi momen bagi mahasiswa untuk menunjukkan seberapa “out of the box” mereka dalam menciptakan media yang relevan dengan dunia pendidikan zaman sekarang.
Satu per satu maju untuk mempresentasikan media yang sudah mereka rancang selama satu semester. Ada yang membawa board game bertema pengelolaan emosi, ada kartu konseling, ada ular tangga karier berwarna cerah khas Gen Z, hingga media digital seperti aplikasi interaktif edukatif. Ruangan langsung terasa hidup karena setiap media punya cara unik untuk menyampaikan pesan layanan.
Bapak Dikdik Garnika, M.Pd., selaku dosen pengampu, menyampaikan rasa bangganya terhadap kreativitas mahasiswa. Menurutnya, inovasi media BK adalah kompetensi yang wajib dikuasai oleh calon konselor di era teknologi yang terus berkembang.
“Generasi sekarang membutuhkan pendekatan yang fresh, interaktif, dan relevan. Saya senang melihat mahasiswa mampu menghadirkan karya yang bukan hanya menarik dilihat, tetapi juga fungsional dalam layanan bimbingan dan konseling. Mereka benar-benar menunjukkan bahwa layanan bimbingan dan konseling bisa dikemas dengan cara yang fun, bukan membosankan,” jelasnya.

Suasana demo makin seru ketika mahasiswa mulai mencoba media milik yang lain. Ada yang sibuk mengocok kartu strategi emosi, ada yang mencoba memainkan board game sambil berdiskusi, ada yang mengutak-atik aplikasi asesmen minat karier, hingga yang menonton media yang di buat berbasis digital. Setiap kelompok juga mendapat kesempatan menerima masukan, kritik, dan pujian dari teman-temannya. Nuansa belajar terasa sangat kolaboratif, jauh dari suasana presentasi yang kaku.
Bagi mahasiswa, proses pengembangan media ini bukan perjalanan yang mudah. Mereka harus merancang konsep, melakukan riset terkait kebutuhan konseli, menentukan desain, sampai melakukan revisi berkali-kali agar media mereka benar-benar siap dipresentasikan. “Capek? Iya. Pusing? Juga iya. Tapi puas banget pas lihat media kami akhirnya bisa dipakai dan diapresiasi teman-teman,” ujar salah satu mahasiswa dengan nada antusias.
Beberapa karya bahkan dinilai potensial untuk diterapkan langsung di sekolah. Misalnya game konseling berbasis tantangan yang dirancang untuk melatih kemampuan komunikasi, serta berbagai media lainnya yang lengkap dengan aktivitas reflektif yang relatable bagi remaja masa kini.
Kegiatan demonstrasi ini memberikan pengalaman nyata bagaimana seorang konselor harus kreatif, adaptif, dan mampu membuat media yang dekat dengan dunia konseli. Selain menambah keterampilan teknis, mahasiswa juga belajar bekerja sama, berpikir kritis, dan mengemas layanan BK dengan cara yang lebih kekinian.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, mahasiswa BKI UIN Saizu membuktikan bahwa layanan bimbingan dan konseling tidak harus kaku dan monoton. Dengan sentuhan kreativitas dan pemahaman terhadap kebutuhan generasi muda, layanan BK bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan, bermakna, dan pastinya relevan. Mereka siap menjadi calon konselor Gen Z yang tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga inovatif dalam praktik.