Dunia akademik lagi-lagi dibuat bangga oleh mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Namanya adalah M. Zulfan Azmi, mahasiswa yang kini semakin sering terdengar karena prestasi dan kontribusinya dalam berbagai ajang ilmiah dan organisasi. Kali ini, ia kembali menorehkan tinta emas dengan meraih Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dalam konferensi nasional Forum Komunikasi Mahasiswa BKI se-Indonesia yang digelar di UIN Siber Syehk Nurjati Cirebon.
Yes, you read it right—mahasiswa BKI Saizu kembali membuktikan bahwa BK bukan hanya tentang konseling, empati, dan ruang curhat, tapi juga mampu bersaing di forum intelektual tingkat nasional. Ajang bergengsi ini diikuti mahasiswa dari berbagai kampus dan berlangsung dalam suasana akademik yang kompetitif serta inspiratif. Tema lomba yang diangkat berkaitan erat dengan isu digitalisasi dan dinamika mahasiswa era kini—tema yang benar-benar dekat dengan kehidupan generasi muda zaman sekarang.
Zulfan hadir bukan hanya dengan tulisan, tapi dengan gagasan yang terasa fresh, relevan, dan penuh perspektif baru. Ia mengangkat pembahasan mengenai bagaimana mahasiswa BKI harus beradaptasi dan tetap bersuara di tengah derasnya perkembangan digital. Ide-idenya dianggap kuat, matang, dan punya nilai kebermanfaatan nyata. Tak heran jika para juri jatuh hati pada kekuatan naskahnya dan menempatkannya di posisi puncak.
Menulis bagi Zulfan bukan hanya soal lomba atau sekadar mengejar juara. Ia menyebut menulis sebagai cermin diri—ruang untuk mengenal dunia lebih dalam dan memahami hidup dengan lebih jernih. Melalui tulisan, ia ingin membangun dialog antara nalar akademik dan nurani sosial agar ilmu bukan hanya berhenti sebagai teori, tapi memiliki nilai dan efek nyata bagi kemanusiaan.
Prestasi ini semakin lengkap ketika menoleh pada rekam jejak Zulfan sebelumnya. Ia aktif berorganisasi, pernah dipercaya sebagai Ketua HMPS BKI, hingga kini menjadi bagian dari pengurus pusat FKM BKI se-Indonesia. Kiprahnya di luar kampus membuatnya memiliki jejaring luas dan pengalaman kolaborasi yang terus berkembang. Dengan gayanya yang humble tapi solid, Zulfan berhasil memadukan dua aspek penting Gen Z: produktif tapi tetap manusiawi, kritis tapi tidak lupa empati.
Prodi BKI UIN Saizu tentu menyambut prestasi ini dengan penuh kebanggaan. Pihak prodi memberikan apresiasi dan berharap kemenangan ini menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain untuk lebih percaya diri unjuk kemampuan. Zulfan menjadi bukti bahwa mahasiswa BKI bisa berbicara lantang, bersaing di kancah ilmiah, dan memberi warna positif bagi dunia akademik nasional.
Ke depan, Zulfan sendiri bertekad tidak berhenti di sini. Ia ingin terus belajar, berkarya, dan menghadirkan tulisan-tulisan baru yang lebih luas manfaatnya. Ia berharap semakin banyak mahasiswa BKI lain yang siap melangkah maju, menuangkan ide, dan menunjukkan bahwa anak BK itu progresif, kritis, dan punya masa depan akademik yang cerah.
Prestasi ini bukan sekadar kertas sertifikat—ini adalah tanda bahwa BKI UIN Saizu hadir dan bersuara di peta keilmuan nasional.