PURBALINGGA, – karya seni menyimpan pesan, tetapi setiap orang dapat menemukan makna yang berbeda di dalamnya. Gagasan inilah yang diangkat dalam Art Exhibition BKI Zone 2026 melalui tema “BIAS MAKNA”. Pameran yang berlangsung pada 15–17 Oktober 2026 di Utsman Janatin City Park, Purbalingga, ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menikmati karya seni, mengekspresikan diri, serta memahami beragam sudut pandang.
Ketua Pelaksana BKI Zone 2026, Rezki Fauzi Pratama, menjelaskan bahwa tema tersebut mengajak pengunjung mengenali diri sendiri sekaligus memahami cara pandang orang lain yang tidak selalu sama. “Arti ‘Bias Makna’ tersebut itu lebih ke biar para pengunjung itu bisa mengenali dirinya masing-masing. Dan terutama buat orang lain juga, biar bisa memahami setiap sudut pandang orang tuh berbeda-beda,” ujar Rezki.
Selain menjadi ruang apresiasi seni, pameran ini bertujuan memperkenalkan Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) UIN SAIZU kepada masyarakat Purbalingga. Penyelenggaraan tahun ini juga menjadi momentum untuk memperkuat keberadaan program studi tersebut di tengah masyarakat. Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) BKI UIN SAIZU, Muhammad Alfin Kamil, menjelaskan bahwa BKI Zone merupakan salah satu program kerja HMPS BKI yang wajib dilaksanakan. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi angkatan 2024 dan 2025 untuk meninggalkan kenangan melalui penyelenggaraan pameran seni.
Menurut Alfin, seluruh pengurus HMPS BKI berperan dalam mendukung kegiatan tersebut. BKI Zone memberikan wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan kreativitas, termasuk menghasilkan karya yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tugas perkuliahan. Ia juga berharap pameran ini membawa dampak positif bagi masyarakat setempat, terutama dalam memperkenalkan keberadaan UIN SAIZU dan Program Studi Bimbingan dan Konseling di Purbalingga.

Ruang Ekspresi dalam Tiga Hari Pameran
Selama tiga hari pelaksanaan, BKI Zone 2026 menghadirkan rangkaian kegiatan yang melibatkan pengunjung secara langsung. Pada hari pertama, panitia menyelenggarakan kanvas kolektif, yaitu aktivitas menggambar bersama, serta pertunjukan langsung. Panitia juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengirimkan karya melalui sistem open submission. Memasuki hari kedua, pengunjung dapat mengikuti aktivitas glow in the dark dengan menuliskan perasaan mereka pada media yang disediakan. Sementara itu, hari ketiga menjadi puncak acara dengan aktivitas melukis wajah dan pertunjukan khusus.
Beragam lukisan menjadi daya tarik utama pameran ini, termasuk karya yang mengangkat tema konseling. Panitia berupaya membantu pengunjung memahami filosofi dan pesan di balik karya melalui penjelasan mengenai gagasan pembuatnya. Rezki menyebutkan bahwa salah satu tantangan penyelenggaraan adalah keterbatasan pilihan tempat yang sesuai untuk menggelar pameran seni di Purbalingga. Kondisi area yang panas juga menjadi kendala tersendiri bagi panitia.
Meski demikian, panitia menargetkan penjualan sebanyak 5.000 tiket. Saat wawancara berlangsung pada hari ketiga, Rezki menyampaikan bahwa sekitar 2.500 tiket telah tercapai. Ia berharap target tersebut dapat terpenuhi dan penyelenggaraan BKI Zone turut mendorong perkembangan Program Studi Bimbingan dan Konseling di Purbalingga.

Ketika Karya Seni Bertemu Pengalaman Personal
Makna pameran tidak berhenti pada penjelasan pembuat karya. Pengunjung juga membawa pengalaman dan interpretasi masing-masing ketika berhadapan dengan lukisan yang dipamerkan. Tama, pengunjung asal Karangjambu yang juga menekuni seni, mengaku tertarik menghadiri pameran karena memiliki minat terhadap berbagai bidang seni, mulai dari seni rupa, musik, hingga sastra. Ketertarikannya semakin besar karena salah satu karyanya turut dipamerkan, yaitu karya bergambar joglo.
Saat diminta memilih karya yang paling berkesan, Tama menunjuk lukisan seorang anak kecil yang duduk di atas bunga. Baginya, karya tersebut membangkitkan ingatan tentang masa kecil yang penuh imajinasi. “Secara langsung seperti flashback saja. Itu membawa saya ke ingatan masa kecil saya begitu, yang penuh imajinasi,” ungkapnya.
Pengalaman berbeda disampaikan Mizel. Ia tertarik pada lukisan yang menampilkan lilin dan bunga mawar. Dari karya tersebut, ia menangkap nuansa emosional yang kuat. “Aku lebih ke lukisan yang ada lilin sama bunga mawarnya sih. Enggak tahu kenapa aku melihat itu kayak penuh keputusasaan dan kesedihan aja,” tuturnya.
Sementara itu, Sezia Asila, mahasiswa semester tiga Program Studi Informatika, mengunjungi pameran karena tertarik pada seni dan ingin memperoleh inspirasi. Ia mengaku tertarik pada sebuah karya bernuansa biru yang menghadirkan kesan tenang. Menurut Sezia, warna biru dan gambaran kedalaman air mengingatkannya pada kesabaran yang mendalam. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sebuah karya dapat menyampaikan pesan berbeda berdasarkan kesan visual dan pengalaman pribadi pengunjung.
Ia berharap kegiatan serupa terus diselenggarakan dengan menghadirkan lebih banyak karya pada kesempatan berikutnya. “Kesan saya dari pameran ini sangat luar biasa. Saya harap juga setiap event kayak gini terus berjalan, terus kayak ditambahin karya-karya yang lain,” ujarnya.