Suasana di Rutan Kelas IIB Banyumas nampak berbeda pada Jumat (13/02). Tawa lepas dan tepuk tangan meriah memecah sunyi yang biasanya menyelimuti lorong-lorong penjara. Hari itu, PPL Kelompok 26 Fakultas Dakwah UIN Saizu Purwokerto terduru dari Mahasiswa Prodi BKI resmi menggelar “Rutan Festival 2026”, sebuah panggung apresiasi bakat yang didedikasikan khusus untuk warga binaan.
Acara yang berlangsung meriah ini menampilkan berbagai potensi tersembunyi dari para warga binaan. Mulai dari pembacaan puisi orisinal yang menyentuh hati hasil karya tulis mereka sendiri selama di dalam sel hingga penampilan akustik yang menghangatkan suasana.
Tidak hanya itu, kearifan lokal turut ditonjolkan melalui Tari Tumandang yang dibawakan dengan penuh energi, disusul dengan lantunan selawat dari grup Hadroh yang membawa kedamaian. Gelak tawa pun pecah saat beberapa warga binaan unjuk gigi dalam sesi Stand Up Comedy, membuktikan bahwa jeruji besi tidak membatasi kreativitas dan selera humor mereka. Penyelenggaraan festival ini bukan sekadar hiburan semata. Bagi Kelompok 26 yang bergerak di bidang Bimbingan Konseling Islam (BKI), agenda ini merupakan bagian vital dari proses rehabilitasi mental dan spiritual.

Kegiatan Rutan Festival sebagai bentuk program seni dan konseling berbasis Bimbingan Konseling Islam (BKI) di Rutan Kelas IIB Banyumas menghadirkan rangkaian kegiatan kreatif mulai dari pembacaan puisi, dan musikyang ditujukan untuk membantu memulihkan kondisi psikologis dan sosial warga binaan. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang aman untuk mengekspresikan emosi, melatih kerja sama, serta membangun kembali rasa percaya diri setelah melewati proses hukum.
Dalam pelaksanaan Rutan Festival , juga sebagai terapi ekspresi (katarsis) menjadi pintu masuk utama. Melalui puisi dan musik, warga binaan diajak mengeluarkan beban emosi yang terpendam sebagai langkah awal menuju ketenangan batin. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip BKI yang menempatkan pengungkapan perasaan sebagai fondasi proses penyembuhan, agar stres dan tekanan psikologis tidak menumpuk dan mengganggu keseharian.
Program Rutan Festival juga berfokus pada peningkatan self-esteem (harga diri). Kesempatan tampil di depan publik dan menerima apresiasi dinilai efektif membangun kembali rasa percaya diri yang sempat runtuh. Pengalaman panggung membuat kemampuan dan potensi warga binaan diakui, memunculkan rasa berharga, serta memperkuat optimisme untuk memulai lembaran baru setelah bebas.
Di sisi lain, dalam rehabilitasi psikososial melatih warga binaan memahami peran masing-masing, menghargai kontribusi rekan, serta menyelesaikan perbedaan dengan cara konstruktif keterampilan kunci untuk reintegrasi sosial ketika kembali ke lingkungan masyarakat.
Tak kalah penting, unsur kesehatan mental (healing) dihadirkan melalui segmen hiburan seperti stand-up comedy. Suasana yang hangat dan penuh tawa terbukti meredakan ketegangan, menurunkan tingkat stres, dan menciptakan iklim rutan yang lebih positif. Dengan psikologis yang lebih stabil, risiko depresi dapat ditekan, sementara motivasi untuk mengikuti pembinaan meningkat.
Program Rutan Festival ini diharapkan menjadi model kolaboratif antara seni, konseling, dan pembinaan yang mampu mempercepat proses pemulihan dan kesiapan kembali ke masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa setiap individu memiliki sisi baik dan bakat yang patut dihargai. Rutan Festival ini adalah bentuk dukungan moral agar mereka tetap optimis menatap masa depan,” ujar M. Zulfan Azmi perwakilan dari Kelompok 26.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama yang juga dihari oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Aris Saefulloh dan wajah haru yang menyelimuti wajah para warga binaan, menandakan bahwa harapan itu masih ada, bahkan di balik tembok rutan sekalipun.