Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, anak-anakku generasi Z yang saya banggakan dan saya sayangi.
Setiap tahun, kita merayakan Hari Ayah. Sebuah momen yang tak hanya menjadi penanda di kalender, tetapi juga undangan untuk kita merenung, mengapresiasi, dan mungkin merajut kembali benang-benang kasih sayang yang kadang terlewatkan dalam hiruk pikuk keseharian. Terkhusus bagi kalian, generasi Z, yang tumbuh di era digital yang serba cepat, saya sebagai Kaprodi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, ingin mengajak kita semua untuk sejenak menepi dan memaknai peran Ayah dalam hidup kita, dari sudut pandang yang lebih dalam dan spiritual.
Kalian, generasi Z, adalah agen perubahan. Kalian adalah pribadi-pribadi yang akrab dengan teknologi, informasi, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Namun, di tengah semua kemajuan ini, jangan sampai kita melupakan fondasi terpenting dalam hidup kita: keluarga, dan salah satu pilar utamanya adalah Ayah.
Ayah Bukan Hanya Sosok Pencari Nafkah: Memahami Peran Multidimensional
Seringkali, di masyarakat kita, peran Ayah kerap disimplifikasi hanya sebagai pencari nafkah utama. Sosok yang bekerja keras di luar rumah, pulang membawa rezeki, dan mungkin jarang menunjukkan emosi secara terbuka. Padahal, peran Ayah jauh melampaui itu. Ayah adalah mentor pertama kita, pelindung, pendidik nilai-nilai moral dan agama, serta sumber inspirasi bagi anak-anaknya.
Dalam Islam, figur Ayah sangat ditekankan. Beliau adalah pemimpin keluarga, yang bertanggung jawab membimbing istri dan anak-anaknya menuju kebaikan dunia dan akhirat. Ingatlah kisah Luqman Al-Hakim dalam Al-Qur’an, bagaimana beliau dengan penuh hikmah menasihati anaknya. Ini menunjukkan bahwa peran Ayah adalah peran seorang pendidik, pembimbing spiritual, dan pembangun karakter. Ayah adalah panutan yang mengajarkan kita ketahanan, tanggung jawab, dan bagaimana menghadapi kerasnya dunia.
Tantangan Generasi Z dan Jembatan Komunikasi dengan Ayah
Sebagai generasi Z, kalian terbiasa dengan komunikasi instan, media sosial, dan dunia yang serba virtual. Ayah kalian mungkin berasal dari generasi yang berbeda, dengan cara komunikasi yang lebih tradisional. Perbedaan generasi ini kadang menciptakan jurang komunikasi. Ayah mungkin kesulitan memahami tren TikTok kalian, atau kalian mungkin merasa Ayah kurang “nyambung” dengan isu-isu yang sedang viral.
Namun, di Hari Ayah ini, mari kita coba membangun jembatan. Jangan menunggu Ayah memahami dunia kalian sepenuhnya. Justru, kitalah yang bisa mengambil inisiatif. Ajak Ayah bicara tentang hal-hal yang beliau sukai, ceritakan sedikit tentang dunia kalian dengan bahasa yang mudah dipahami, atau sekadar habiskan waktu berkualitas bersama tanpa gangguan gawai. Saling memahami adalah kunci. Tunjukkanlah bahwa kalian menghargai pendapat dan pengalaman hidup beliau. Percayalah, Ayah mana yang tidak bahagia melihat anaknya antusias untuk berbagi cerita dan menghabiskan waktu bersamanya?
Spirit Islam dalam Memuliakan Orang Tua, Terkhusus Ayah
Islam sangat menekankan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua, atau yang kita kenal dengan istilah “birrul walidain.” Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓا۟ إِلَّا إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلًا كَرِيمًا وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.'” (QS. Al-Isra’: 23-24)
Ayat ini secara eksplisit mengajarkan kita untuk tidak hanya berbuat baik, tetapi juga menggunakan bahasa yang lembut, tidak membentak, dan senantiasa mendoakan mereka. Perintah ini berlaku untuk kedua orang tua, dan Ayah memiliki kedudukan istimewa sebagai pemimpin dan pelindung keluarga.
Rasulullah SAW juga bersabda dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
Artinya: “Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Ridha Allah berada pada ridha orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan betapa mulianya posisi orang tua di mata Allah. Ridha Ayah adalah pintu menuju ridha Ilahi. Ini adalah investasi spiritual terbesar yang bisa kita lakukan. Melalui kacamata Bimbingan dan Konseling Islam, hubungan harmonis dengan orang tua, termasuk Ayah, adalah fondasi penting bagi kesehatan mental, emosional, dan spiritual seorang individu.
Kesimpulan
Anak-anakku generasi Z, di Hari Ayah ini, mari kita jadikan momentum untuk merenung dan bertindak. Apresiasi Ayah bukan hanya dengan ucapan “Selamat Hari Ayah” di media sosial, tetapi juga dengan tindakayata: mendengar ceritanya, menghargai pengorbanaya, memahami cara pandangnya, dan mendoakaya. Jadilah generasi yang tidak hanya cerdas teknologi, tetapi juga kaya empati dan menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga.
Mungkin Ayah kalian tidak pandai mengungkapkan perasaaya, tetapi yakinlah, setiap tetes keringat dan setiap doa yang beliau panjatkan adalah bukti cinta yang tak terhingga. Mari kita balas cinta itu dengan bakti terbaik kita. Semoga Allah SWT senantiasa merahmati Ayah kita semua, menjaga mereka dalam kesehatan dan keberkahan, serta memberikan kita kemampuan untuk senantiasa berbuat baik kepada mereka. Aamiin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hormat saya,
[Nama Anda, Kaprodi BKI UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto]